
Tulisan-tulisan dalam halaman ini lahir dari hal-hal sederhana: rasa yang tidak sempat diucapkan, pikiran yang terlalu ramai, dan pengalaman yang kadang datang tanpa aba-aba. Puisi menjadi cara penulis untuk berhenti sejenak, lalu mencoba memahami semuanya.
Setiap bait di sini tidak selalu menawarkan jawaban. Sebagian hanya ingin menemani, sebagian lain mungkin mengajak pembaca melihat sesuatu dari sudut yang berbeda. Ada yang tentang kehilangan, harapan, kegelisahan, juga hal-hal kecil yang sering terlewat, tapi diam-diam berarti.
Publikasi ini bukan tentang kesempurnaan, melainkan tentang keberanian untuk berbagi. Jika ada satu atau dua tulisan yang terasa dekat, mungkin di situlah puisi ini menemukan tujuannya.
Semoga setiap kata yang tersaji bisa sampai dengan cara yang sederhana: dipahami, dirasakan, atau setidaknya, tidak terasa asing.
Lisan Yang Gemar Berjanji
Oleh: Gita Dina Luthfiah
IG: @flordenieve13
Ada manusia yang pernah kucinta
Pernah datang dengan tutur paling lembut,
menyulam harapan pada hati
yang bahkan tak meminta selain kejujuran,
Ia menanam kata-kata
manis
bagai benih di tanah yang percaya,
lalu membiarkannya tumbuh
hingga menjelma keyakinan
bahwa kelak akan ada bahagia
yang menetap dalam genggaman…
Dengan seluruh
ketulusan,
akan menjaganya seperti doa
yang tak pernah lelah kusebut dalam diam,
kuserahkan waktu, air mata,
bahkan bagian-bagian diriku yang tak pernah
kuberi kepada siapapun
Namun yang kucinta
Ternyata hanya mahir merangkai janji
Tanpa pernah berniat menepatinya
Ia menjadikan diriku
kekasihnya
Tempat berpulang saat dunia tidak memeluknya,
Namun meninggalkanku
ketika hatinya kembali merasa utuh...
Betapa ironis...
Orang yang paling kubela dari luka
justru menjadi tangan
yang paling dalam menggoreskan duka
Kini aku memahami,
Bahwa tidak semua yang berkata cinta
mengerti makna mencinta...
Sebab sebagian hanya datang
untuk meneguk habis ketulusan,
lalu pergi setelah tidak lagi membutuhkan
Dan bila namanya
masih tinggal
di sudut ingatan yang pilu,
biarlah itu menjadi pengingat
bahwa aku pernah mencintai sepenuh jiwa,
Namun kepada seseorang
yang hanya pandai menerima,
tanpa pernah tau
bagaimana menghargai hati
yang telah mengasihinya tanpa syarat.
Bondowoso, 10 April 2026
Gita Dina Luthfiah adalah
penulis pemula yang menuangkan pengalaman hidup dan perasaan dalam karya puisi.
Puisi ini merupakan kisah nyata yang pernah dialami penulis, sebagai bentuk
ungkapan rasa, luka, dan harapan dalam perjalanan cinta dan kehidupan (tidak untuk diedit)