Puisi selalu punya cara unik untuk membawa kita berjalan lebih jauh dari sekadar kata-kata. Dalam “Pengembara”, Zawawi Imron tidak hanya bercerita tentang perjalanan fisik, tetapi juga tentang pencarian makna, arah, dan jati diri. Setiap lariknya terasa seperti langkah kaki yang menapaki jalan sunyi, penuh perenungan dan kejujuran batin.
Semoga puisi ini bisa menjadi ruang singgah sejenak, tempat kita merenung, atau bahkan menemukan kembali sesuatu yang selama ini kita cari tanpa sadar
Puisi “Pengembara”
karya D. Zawawi Imron membangun lanskap emosional tentang perjalanan,
kerinduan, serta tanggung jawab sosial yang menyertai ...
Pengembara
biru restumu, ibu!
warna tahi tembaga di wajah langitku
yang suam-suam kuku
ada rantau hendak kuputar
dalam mataku
di sudut dusun yang sepi
kujumpai seorang petani
duhai, ibu!
matanya
bentangi paras tanah derita
dan langit biru
melas hatinya
buah siwalan muda diperam di laut darah
pengembara!
pada kota-kota yang hendak kaujelajah
mengombak sedu, ya
di sanalah aku
ibu!
betapa panas
seratus kota
di hatiku berkobar
