Tak ada hasil yang ditemukan

    Puisi: Nyanyian Tengkorak (Karya D. Zawawi Imron)

     

    Puisi Nyanyian Tengkorak karya D. Zawawi Imron hadir sebagai pengingat yang sunyi sekaligus mengguncang tentang hakikat kehidupan manusia. Dengan gaya bahasa yang khas dan penuh perenungan, penyair membawa pembaca menelusuri sisi paling dalam dari eksistensi, di mana tubuh hanyalah sementara, dan yang tersisa pada akhirnya adalah jejak makna.

    Melalui simbol tengkorak, puisi ini tidak sekadar berbicara tentang kematian, tetapi juga tentang kesadaran—bahwa kehidupan yang kita jalani sering kali terjebak dalam kesementaraan yang kita anggap abadi. Ada nada lirih yang mengalun, seolah mengajak kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia, lalu bertanya: sudah sejauh mana kita benar-benar hidup?

    Puisi ini cocok dinikmati dalam keheningan, saat pikiran sedang jujur pada dirinya sendiri. Karena di balik setiap lariknya, tersimpan pesan yang tidak selalu nyaman, tetapi penting untuk disadari.

    Puisi “Nyanyian Tengkorak” karya D. Zawawi Imron merupakan karya reflektif yang menyoroti kefanaan, kehampaan spiritual, dan kegelisahan manusia ..
    Puisi: Nyanyian Tengkorak (Karya D. Zawawi Imron)
    Nyanyian Tengkorak
    Seribu pinggan, senyum dan sangsiku
    membuatku tak kenal kubu
    hanya dalam liang suara berdesakan
    diselingi jerit panjang.

    Sekian hari dan tahun
    cabang dahan dan sekian ranting
    digantung doa kering
    di atas laut beracun.

    Kembalilah o, darah dagingku!
    Sayapmu berderai
    merangkum peninggalanku
    tahulah! Dari mana getarmu bersumbu
    berapa harga senyum
    dan apa makna cium?

    O, langit!
    O, bumi!
    Apakah yang kini harus kubasuh?

    Posting Komentar

    Lebih baru Lebih lama

    نموذج الاتصال